Diri dan Label pada diri
April 4th, 2008 by belajarSemua ciptaan yang ada di alam semesta yang telah diketahui oleh manusia pasti diberikan label/sebutan atau nama. Inilah hasil karya akal budi manusia sejak kita mengenal bahasa yang juga merupakan Rachmat yang sangat menakjubkan dari YME, sehingga kita begitu antusiasnya untuk mengetahui apa saja yang dijumpai oleh kita. Penamaan ini juga merupakan tradisi warisan nenek moyang kita yang masih kita pertahankan sampai saat ini.
1. Nama pada Diri
Pada awalnya, di banyak suku bangsa menerapkan penamaan diri sesuai dengan profesi pekerjaannya. Lalu berkembang pada penamaan diri yang memberikan ciri nama keturunan dari orangtua atau para leluhur.
Mungkin diantara para pembaca pernah mendengar falsafah Tao (Tao diperkenalkan oleh Lao Tzu, seorang filsuf Cina yang hidup pada masa Dinasti Zhou Timur, 770 – 256SM) yang berbunyi:
Tao (jalan) yang bisa dijelaskan, bukanlah Tao yang sejati dan nama yang diberikan bukanlah nama sebenarnya. Aku adalah Aku, saya adalah saya dan Aku adalah saya, saya adalah Aku, tetapi Aku bukanlah saya dan saya juga bukan Aku. Aku dan saya adalah satu.
Mungkin sangat membingungkan bagi sebagian besar orang-orang awam yang tidak memahaminya. Mungkin penjelasan ilustrasi berikut ini bisa membangkitkan inspirasi kita:
Seandainya ktia adalah satu-satunya yang ada di alam semesta ini (sementara anggap saja kita “tahu” cuma kita sendiri saja yang ada). Tetapi tentunya pada saat yang bersamaan kita juga “tidak tahu” siapa kita sesungguhnya. Mengapa? Karena tidak ada yang lainnya, jadi bagaimana kita bisa tahu bahwa kita itu adalah kita? Lagi pula perlukah kita memberikan nama pada kita? Untuk apa nama itu toh tidak ada siapa-siapa atau apa-apa?. Ini sebetulnya yang merupakan cerita awal dari segalanya. Nah, untuk bisa tahu, maka kita menguraikan kita menjadi berbagai hal. Inilah yang terjadi. Dalam faktanya kita ini ada begitu banyak, maka kita merasa perlu memberikan label nama pada diri kita masing-masing dan lainnya.
Petikan dari buku Kebijaksanaan Cina berikut ini mungkin bisa bermanfaat:
Tao adalah “Jalan” ke Bawah dari Segalanya
Walaupun disebut Tao, ia selalu tak bernama. Pikiran menamai hanya dengan kata-kata, otak berpikir hanya dengan pemikiran. Tetapi Tao adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang utama, yang bukan kata-kata ataupun pemikiran. Siapakah yang tahu, apa itu?. Ia berada dalam bagian terkecil dari segalanya, dalam yang terbesar dari segalanya.
Kalau yang utuh itu telah dibagi-bagi dan hilang, nama diberikan kepada bagian-bagiannya. Kalau nama dan bagiannya hilang, yang utuh kembali lagi.
Seolah-olah seluruh bagian dari yang utuh adalah sungai yang mengalir ke laut. Berpikirlah ke bawah. Bergeraklah bersama sungai melampaui kata-kata dan pemikiran menuju sumber yang berbaur.
Bukan pada bagian-bagiannya dan juga bukan pada keseluruhannya, Tao adalah “Jalan” ke bawah dari segalanya. Jadi “Jalan” merupakan segalanya, maka bergeraklah.
Dan tahukah Anda: apakah hadiah terindah dan yang pertama dari kelahiran seorang anak manusia? Itu adalah sebuah: Nama. Nama yang dihadiahkan atau diberikan itu bagi sang anak, bisa sangat berarti dan bisa saja tidak. Ini semua tergantung dari persepsi dari si anak sendiri. Dan seperti biasanya, nama itu menjadi identitas dengan diri si manusianya, bahkan sampai ketika si manusia itu wafatpun, namanya akan tetap ada dan dikenang oleh orang lain. Jadi bisa dimengeri bahwa pada umumnya orang akan sangat marah kalau namanya diolok-olok atau dijadikan obyek olokan. Tapi, marilah kita amati bahwa nama itu bukanlah nama yang sebenarnya, kan? Nama itu lebih berfungsi sebagai identitas saja, dan memang hanya sebatas identitas. Karena sesungguhnya masih ada esensi yang lebih besar dan sangatlah berarti bagi perkembangan serta kemajuan spiritual si Roh itu sendiri.
2. Label-label Jabatan
Banyak orang yang masih saja sangat memperhatikan jabatan dan begitu terikatnya mereka dengan label-label jabatan itu, sampai-sampai mereka lupa siapa sesungguhnya mereka itu. Contoh berikut ini mungkin bisa berguna: A adalah seorang pria yang telah berkeluarga, mempunyai seorang istri dan dua anak gadis. Pekerjaan A untuk mencari nafkah adalah sebagai seorang guru privat bahasa asing. Kalau kita amati, maka pada saat yang bersamaan bisa saja A mempunyai label-label jabatan: suami, ayah, guru. Saat A sedang berjalan berdua bersama istrinya, orang lain yang tahu akan mengatakan bahwa A adalah suami dari istrinya, lalu kalau A sedang berjalan berdua atau bertiga bersama anaknya, maka orang lain yang mengenal A akan menyebutkan bahwa A adalah ayah dari kedua anak tersebut. Ketika A berhadapan dengan murid-murid privatnya, mereka akan memanggil A guru. Nah, inilah suatu fakta bahwa label-label jabatan itu tidak harus selalu berlaku terus pada waktu yang lama, karena A bisa saja berperan berbeda kalau A mau mengikuti jabatan-jabatan yang A anggap itu berguna dan bahkan bisa disalahgunakan olehnya. Kalau sudah begini pola pikir kita, maka kita akan terjebak dalam egoisme kita sendiri. Lalu bagaimana seharusnya kita bertingkah atau berperan tanpa harus terjebak ke dalam pola pikir seperti diatas?. Hanya satu jawabannya: Jadilah diri kita sendiri dan senantiasa sadarilah bahwa kita ini tidak punya hak atas segala sesuatunya!. Ketika kita menyadari diri kita sendiri adalah sesuatu yang luar biasa dan sekaligus tidak luar biasa dalam keberadaannya di alam semesta ini, maka kita akan menjadi orang yang rendah hati, berpengertian dan bisa meningkatkan hal itu pada taraf cinta kasih yang seutuhnya. Sebaliknya, semakin tinggi ego kita, maka kita semakin mengindentikkan diri kita dengan label-label: nama, kedudukan, jabatan, gelar, kualitas dan segalanya yang lebih condong kearah materi atau fisik dan keduniawian. Ini tentunya juga bisa terjadi karena kurangnya pemahaman yang tepat dari pola pikir kita dan lemahnya kita dalam memberikan keleluasaan pada hati nurani kita sendiri untuk berkarya. Cerita pendek berikut ini mungkin bisa bermanfaat:
Gubernur Takeshi Berkunjung ke Guru ZenAlkisah seorang Gubernur bernama Takeshi mengunjungi seorang Guru Zen untuk meminta nasehat. Ketika ia sampai ke gerbang padepokan sang Guru, seorang murid senior menyambutnya.Takeshi, “Saya adalah gubernur propinsi ini, ingin bertemu dengan Gurumu. Apakah gurumu ada ?”Murid, “Sebentar saya akan lihat ke dalam.”Lalu murid itu bergegas ke dalam dan menemui gurunya sambil menceritakan kedatangan Gubernur.Guru Zen itu berkata, “Saya tidak kenal sama gubernur dan saya tidak ada hubungannya dengan gubernur, suruh dia pergi dan bilang saya tidak ada.”Murid tersebut lalu kembali ke Gerbang dan menyampaikan apa yang dikatakan gurunya. Gubernur Takeshi itu terkejut dan merah mukanya, namun dia segera tersadar dan berkata kembali kepada murid itu, “Sampaikan salam dari Takeshi yang ingin bertemu guru.”Kembali si murid masuk ke dalam dan menyampaikan apa yang dikatakan Gubernur Takeshi. Kata Guru, “Ah, si Takeshi ingin bertemu saya?, cepat suruh dia masuk kemari. Kedatangannya telah saya nantikan.”
Lihatlah bahwa hanya untuk bertamu saja, seseorang yang tidak sungguh-sungguh sadar bisa menggunakan ‘label-labelnya’ yang sudah sepatutnya ditanggalkannya jauh-jauh dan tidak ada hubungannya dengan kegiatannya sama sekali di saat itu.Mari kita perhatikan dan renungkan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang di Republik ini?. Bukankah masih banyak sekali yang terobsesi dan sangat melekat dengan label-label mereka masing-masing?. Lalu parahnya, hampir semua orang juga membiarkan dan mengikuti hal yang tidak tepat ini. Bahkan label-label itu menjadi seolah-olah sesuatu yang penting atau sakral, tetapi diperjual belikan dengan bergepok-gepok uang!. Terlalu banyak orang lebih menitikberatkan dan terfokus kepada label ‘jabatan’ nya, bukan kepada ‘pekerjaan’ nya itu sendiri atau yang dideskripsikan oleh pekerjaan tersebut. Renungkanlah hal ini.Demikian pula dengan gelar-gelar maupun berbagai predikat, seperti predikat: juara. Sesungguhnya yang dinamakan juara itu hanya berlangsung sesaat ketika seseorang diumumkan sebagai juara, selebihnya adalah tidak dan bukan juara lagi. Apakah memang ada profesi yang namanya juara?. Ini sering menipu manusianya yang menjadi juara dan membuatnya hidup dalam bayang-bayang “juara” tadi yang terkadang menimbulkan beban mental yang signifikan, serta menyebabkan si manusianya sering tidak bisa menikmati keberadaannya pada situasi dan kondisi SAAT INI-DISINI. Oleh karena itu, alangkah tepatnya kalau kita tidak melekat pada Label-label atau predikat apapun agar kebebasan kita senantiasa tetap ada. Toh, label-label itu sendiri juga tidak abadi.